Senin, 01 April 2013

SEJARAH MASJID AGUNG KUALA TUNGKAL

Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal
 merupakan salah salah  masjid  tua di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Sejarah perkembangan Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal tidak terlepas dari sejarah perkembangan pemerintahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Menurut sejarah pemerintahan zaman dahulu, perkembangan masjid itu tidak terlepas dengan tiga hal yaitu, pemerintahan, pendidikan, dan masjid.
Pada waktu itu daerah ini, bahkan seluruh daerah Pantai Timur Provinsi Jambi dihuni oleh suku Laut yang masih beragam Animisme dan sedkit sekali suku Melayu yang beragama Islam, namun baru nama, belum amaliyahnya. Sebab belum adanya sarana ibadah, guru agama dan da’i. Kekosongan dapat di isi oleh suku Banjar yang diantaranya terdapat guru-guru agama.

Sejak itulah bermunculan rumah ibadah dan madrasah dengan bentuk yang sangat darurat dan sederhana sekali. Di Kuala Tungkal berdiri satu masjid dan madrasah pertam akali didirikan di Parit III Kelurahan Tungkal II Kecamatan Tungkal Ilir,  untuk shalat jama’ah dan jumat. Kemudian menyusul di Parit II Tungkal IV di dirikan sebuah Surau oleh suku Melayu.
Namun beberapa tahun berjalan  timbullah perpecahan antara suku Banjar dan Melayu. Suku Banjar mengelola Masjid di Parit III dan suku Melayu mengelola Surau di Parit II. Perpecahan ini disebabkan oleh masalah khilafiyahan/furu’iyah, perpecahan ini menguntungkan Pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu.
Untuk menghindari perpecahan tersebut, maka tokoh ulama’ dan tua tengganai kedua belah pihak mengadakan musyawara. Dicapailah mufakat bahwa akan dibangun sebuah masjid besar yang terletak di antara kedua masjid tersebut sedangkan kedua masjd tersebut diturunkan fungsinya menjdi surau.
Pada tahun 1940 tepatnya dibangunlah masjid besar tersebut diatas tanah wakaf dari H. Badaruddin seluas + 107,7 M x 47,7 M namun pemancangan tiang pertamanya baru dilaksanakan pada zaman Pemerintahan Jepang pada tahun 1943 dengan bangunan berukuran 25 x 25 M pondasi tanah, tiang kayu dan besi, dinding papan kapur, atap tingkat pertama genteng dan tingkat kedua atap sirap, kubah serta mirhab beratap seng.
Masjid Agung Sebagai Pusat Penyiaran Agama Islam Karena lokasinya berdampingan dengan madrasah Al-Hidayatul Islamiyah yang di dirikan oleh KH. M. Daud Arif pada tahun yang hampir bersamaan dan pengelolaannya pun orang yang sama. Maka masjid ini merupakan pusat penyiaran agama Islam di Kuala Tungkal antara lain,  Mengadakan pengajian Ilmu-ilmu agama, Tauhid, Fiqh, Tasauf, tafsir, dan Hadits serta Qira’atul Qur’an  secara terjadwal.
Mengadakan ceramah-ceramah agama ketempat-tempat lain, rumah-rumah penduduk dan lainnya. Selain itu juga masjid ini juga Sebagai Markas Pejuang Kemerdekaan.Masjid Agung juga difungsikan sebagai markas kegiatan gerakan Kemerdekan RI membentuk barisan Hisbullah dan Selempang Merah untuk Pemuda dan mengelorakan kemerdekaan bangsa.
Sehingga di kalangan jama’ahnya banyak yang menjadi pemimpin dan anggota Barisan Selempang Merah dan banyak yang gugur dalam perang kemerdekaan RI. Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkaldalamsejarahperkembangannya sudah mengalami renovasi atau perbaikan fisik bangunan di berbagai bagiannya yaitu mulai serambi, tempat wudhu, toilet, kantor, ruang perpustakaan, ruang rapat dan ruangan kantor MUI,  kantor petugas dan pagar.
Renovasi serambi kanan dan serambi kiri Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal tersebut diselesaikan atau dibangun pada tahun 2002 M, dengan dana dari swadaya dan APBD Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebesar Rp. 497.071.000,- (empat ratus sembilan puluh tujuh juta tujuh puluh satu ribu rupiah) termasuk renovasi tempat wudhu dan toilet.
Sampai sekarang Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal terdiri dari ruang tempat shalat bagian dalam dan luar, serambi kanan, serambi kiri, dan serambi depan, serta bangunan penunjang lainnya. Selain itu terdapat style Arab pada beberapa kaligrafi dan mihrob yang berbentuk lengkung. Seperti halnya masjid-masjid tua yang lain Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal tidak terlepas dengan keberadaan menara. Sampai sekarang Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal memiliki satu menara yang digunakan sebagai tempat untuk tempat pengeras suara dan pemancar Radio.
Masjid Agung Al-Istiqamah ini juga memiliki atap yang berbentuk Kubah (berbentuk lengkung setengah bulat). Di samping kanan Masjid Agung Al-Istiqamah juga terdapat lembaga pendidikan MI/SD, MTs dan Aliyah yang kesemuanya dalam naungan Yayasan PHI. Untuk masuk kedalam Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal ada enam buah pintu utama, yaitu berada di depan dua buah pintu, di samping kanan ada dua buah pintu dan di samping kiri juga ada dua buah pintu. Pintupintu tersebut terbuat dari kayu Jati dan terukir dengan indah.
Masjid tersebut juga memiliki empat tiang utama masjid yang ukurannya cukup besar-besar dan 12 tiang utama serambi masjid. Sementara untuk kelantai dua harus melalui dua buah tangga yang berada disebelah kiri dan kanan dalam teras masjid. Dalam keseharian masjid ini. Di gunakan. Sembahyang jamaah, dan pada bulan ramadhan ini. Setiap waktu Terutama waktu dzhuhur. Dan A’shar,  ada sekitar 450 jamaah yang bersembahyang di masjid tersebut. ” Kalau waktu Zhuhur, biasanya ada 450 jamaah di sini , 300 murid PHI dan lainya dari jamaah umum, papar.  Ahmad Yani (50) kaum masjid ini.
Dikatakannya pada bula puasa ini Msjid Agung setiap pagi menggelar kegiatan pengajian, tafsir al Jalalain, yang di ada hingga menjelang zhuhur. “Dulu kegiatannya sore, karena pesertanya banyak yang ngantuk makanya di ganti pagi,papar lelaki yang sudah dua belas tahun menekuni profesi ini.
Selain itu pada bulan Ramadhan ini masjid ini pada sore hari juga mengadakan kegiatan buka puasa bersama , dan biasanya kegiatan ini di mulai dengan kultum dan ceramah. Selain. Shalat tarawih pada malam harinya juga selalu di gelar, biasanya bacaan surat pada tarawih setiap malam menghabiskan bacaan stu juz , alqur’an .
Dulu bacaan shalat tarawih selalu khatam satu jus setiap malam, tapi karena imamnya sudah uzhur, sekarang tidak di lakukan lagi karena belum ada pengganti yang berani tampil